Read Terang Bulan Terang di Kali by S.M. Ardan Online

terang-bulan-terang-di-kali

Negaraku Wikipedia Negaraku English My Country is the national anthem of Malaysia.It was selected as a national anthem at the time of the Federation of Malaya s independence from Britain in The tune was originally used as the state anthem of Perak, which was adopted from a popular French melody titled La Rosalie composed by the lyricist Pierre Jean de Branger. We would like to show you a description here but the site won t allow us.

...

Title : Terang Bulan Terang di Kali
Author :
Rating :
ISBN : 9789791570602
Format Type : paperback mass market
Number of Pages : 287 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Terang Bulan Terang di Kali Reviews

  • Darnia
    2018-12-24 11:41

    Pernah mendengar tentang dokumentasi kehidupan? Biasanya dokumentasi kehidupan dalam bentuk tulisan, diungkapkan dengan gaya featurette. Nah, beda dengan S.M Ardan, anak Betawi kelahiran Medan, 2 Februari 1923 (wafar 16 Nov 2006) ini, beliau mendokumentasikan kehidupan masyarakat Betawi era 70-80-an dengan gaya fiksi alias cerpen.Karya fiksi memang tidak akan lepas dari kenyataan, seperti yang diungkapkan oleh Gabriel-Garcia Marquez. Dan cerpen-cerpen S.M Ardan ini juga menampilkan realita yang dijalani masyarakat Betawi kala itu. Seperti kisah para tukang becak yang kebanyakan diceritakan dalam kumcer ini. Ada Jiman yang pulang membecak dengan hati dongkol karena uang yang didapatkannya sedikit. Suasana hatinya makin enggak karuan, karena saat pulang ke rumah, si Icem, istrinya tidak meninggalkan makanan. [Pulang Pesta]Ada pula kisah Patmah yang bahagia, karena suaminya, Kosim baru keluar dari penjara. Namun, dalam kegembiraannya masih ada ketakutan dalam hatinya bahwa Kosim akan kembali nyolong lagi [Belum Selesai]. Yang unik, ada pada cerpen Rekaman, ditulis di Kwitang tanggal 17 Agustus 1954. S.M Ardan menggambarkan keadaan masyarakat pada saat pidato Kemerdekaan bung Karno disiarkan di radio. Coba simak paragraf berikut :"Ketika orang berbondong-bondong menuju tempat perayaan Proklamasi, aku lihat tukang daging sudah mulai menawarkan dagangannya. Bagi murid sekolah dan para pekerja hari ini adalah hari libur. Namun, makan tidak kenal hari libur.Juga tukang soto mi sudah melayani pembelinya di simpang empat. Ibu-ibu di dapur tidak ada hari libur. Untuk bisa makan, sebagian orang memang tidak kenal libur."Kumcer-kumcer di atas ada dalam 10 cerpen yang ada di bab Terang Bulan Terang di Kali. Selanjutnya, di sub bab kedua, Cerita Keliling Jakarta, S.M Ardan banyak bercerita tentang hubungan antar manusia, masih di lingkup masyarakat Betawi. Cerpen-cerpen di sub-bab kedua ini lebih berintrik. Simak saja kisah Masenun dan Icang (ada di beberapa cerpen). Kedua sejoli ini -- di jaman sekarang -- punya hubungan TTM, Teman Tapi Mesra. Bahkan, digambarkan oleh S.M Ardan, mereka sendiri tidak tahu hubungan mereka itu sebagai apa (enggak sampai kumpul kebo sih)Kemudian, ada kisah Tinah yang uang gajinya kecopetan. Semua rencananya untuk membeli baju baru untuk kondangan dan nonton di bioskop buyar sudah. Untung ada kakaknya Maman dan sahabatnya, Icang (beda sama Icangnya Masenun) yang berhasil menemukan kembali uang tersebut karena kenal dengan preman Pasar Senen. [Betapa Enak Bisa Ketawa]Sub bab kedua ini berisi 12 cerpen. Meski kebanyakan menggambarkan kisah-kisah hubungan asmara antar manusia, namun S.M Ardan tidak meninggalkan ke-khas-an penulisannya dengan menggambarkan setting sekitar Kwitang dan Pasar Senen di masa itu.S.M Ardan sendiri memulai menulis sejak kelas 6 Taman Muda atau setingkat SD. Dan kisah-kisah dalam buku ini, kebanyakan ditulisnya saat beliau "pulang kampung". Kampung di daerah Kwitang, yang dihuninya hingga akhir hayat. Buku ini recommended untuk teman-teman yang tertarik dengan budaya, khususnya budaya Betawi di tahun 70 - 80-an.

  • Bangquito
    2018-12-25 07:39

    Menyenangkan. Begitu kental budaya betawinya. Walaupun saya sendiri orang betawi, saya merasa agak kesulitan membacanya kadang-kadang. Kumpulan cerpen ini memang tidak saya alami pada masa kecil, tetapi mengingatkan pada cerita orang tua sebelum saya. Teman saya mengatakan, membaca buku ini seperti melihat S.M Ardan adalah orang baik-baik, dan saya merasakan hal yang sama, hampir seluruh cerpen di novel ini berakhir dengan bahagia. S.M Ardan seperti mengatakan pada kita bahwa karakter di cerita ini damai dengan semua persoalannya.

  • Suryadi
    2018-12-26 10:50

    Penasaran sama gaya penceritaan SM Ardan dan Firman Muntaco. Baru dapat SM Ardan nih, Firman Muntaconya belum nemu.Di awal-awal, ceritanya kurang menggigit, kurang konflik. Tapi menjelang akhir bagian pertama (Terang Bulan Terang di Kali), cerita-ceritanya mulai asik.Sekarang lagi mau baca bagian keduanya (Kisah Keliling Jakarta).

  • Vivian Idris
    2019-01-15 12:33

    Charming, hillarious, touching. Reminds me of childhood in my parents' house surrounded by native Betawi. I can almost hear the dialogues..